PISANG KEPOK PERLU PENANGANAN YANG LEBIH

MARTAPURA – Dalam rangka kegiatan masterplan pengembangan terhadap tanaman holtikultura yaitu jenis pisang kepok di Kabupaten Banjar.   Bappeda Kabupaten Banjar Kamis(10/04), kembali menggelar laporan akhir masterplan pengembangan pisang kepok di Kabupaten Banjar yang dipimpin Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Kabupaten Banjar Ajidinnoor Ridhali, SE.,MM,  dihadiri Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Banjar, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Banjar, Kecamatan Sambung Makmur Kabupaten Banjar, Gapoktan serta PPL kecamatan yang terkait dalam pengembangan pisang kepok di Kabupaten Banjar.

Dalam laporan akhir ini dibahas mengenai adanya tindak lanjut dalam  kegiatan pengembangan yaitu kesiapan kelompok tani serta Penyuluh Pertanian di daerah dalam pengembangan pisang kepok karena pisang kepok memerlukan penanganan yang lebih dari tanaman lainnya karena rentan terhadap serangan penyakit. Selain itu juga kegiatan ini diharapkan nantinya akan ada sistem pemulihan kondisi tanah untuk memelihara tanaman pisang pada kondisi tanah yang pernah ditanam pisang yang terserang penyakit, perkembangan tanaman pisang bisa meningkat, adanya pengendalian di lapangan untuk penanganan pisang kepok  yang terserang penyakit, serta tidak adanya benturan dengan RTRW kawasan lahan perkebunan  pisang kepok dengan kawasan lahan perkebunan lainnya.

Perlu diketahui bahwa saat ini sentra penanaman pisang baik jenis kepok atau yang lainnya terdapat di daerah Kecamatan Simpang Empat, Kecamatan Pengaron, Kecamatan Sambung Makmur dan Kecamatan Sungai Pinang. Berdasarkan Identifikasi Sentra Produksi. Diketahui Budidaya Tanaman Buah tahun 2006 pada periode tahun 2006 sentra produksi di Kecamatan Sungai Pinang sebanyak 406.830 rumpun (35% sebagai suplaianakan), kecamatan sambung makmur sebanyak 509.000 rumpun (44% sebagai suplaianakan) dan kecamatan pengaron sebanyak 243.839 rumpun  (21% sebagai suplai anakan).  Berdasarkan data tersebut maka dapat dipastikan bahwa pisang kepok yang dihasilkan di Kabupaten Banjar masih kurang sehingga tidak mencukupi untuk kemampuan ekspor Indonesia terhadap komoditi pisang ke berbagai negara.(ADB/Ekonomi)

Leave a Reply

%d bloggers like this: